Kurangnya komunikasi hampir selalu menjadi penyebab konflik. Mengapa beberapa orang merasa sulit berkomunikasi dengan benar? Psikolog dan peneliti melakukan studi tentang masalah yang mempengaruhi komunikasi yang efektif. Berikut empat alasan paling umum terjadinya masalah yang disebabkan oleh minimnya komunikasi :

1. Hambatan emosional, Psikologis, atau Sikap

Terlalu sering, kita begitu terperangkap dalam emosi kita sehingga kita tidak bisa lagi mengungkapkan pikiran kita dengan baik. Terkadang, ada orang yang merasa sulit untuk mengekspresikan emosinya. Dalam kasus lain, konflik yang ada menimbulkan dampak emosional yang sangat besar sehingga masyarakat tidak dapat berbicara secara sering, terbuka, dan akurat. Meski begitu, keterlibatan emosi memengaruhi aliran alami komunikasi yang baik.

Keadaan psikologis seseorang serta kemarahan, stres, harga diri rendah, juga dapat memengaruhi bagaimana pesan akan dikirim, diterima, atau dirasakan. Hal yang sama terjadi ketika seseorang memiliki disabilitas fisik, seperti pendengaran, atau orang tersebut memiliki sikap tertentu seperti penolakan terhadap perubahan, manajemen yang buruk atau kurangnya motivasi. Hambatan ini menghalangi komunikasi yang mengakibatkan konflik.

2. Kurangnya Perhatian atau Minat

Kurangnya perhatian atau minat saat berkomunikasi merupakan hal yang umum bagi orang yang berkonflik untuk merumuskan jawaban sementara orang lain masih berbicara. Inilah yang dimaksud dengan mendengarkan secara kritis dan sering kali menghalangi orang tersebut untuk benar-benar memahami keseluruhan pesan.

Dalam beberapa kasus, ketika orang tidak merumuskan tanggapan saat mendengarkan, mereka mungkin memikirkan hal lain di tengah percakapan. Pikiran acak tersebut mengalihkan perhatian orang tersebut dari mendengarkan pembicara dengan penuh perhatian.

Kadang-kadang, tidak tertarik pada pembicara atau topiknya juga menghalangi pendengaran yang efektif. Semua ini mengarah pada gangguan komunikasi, kesalahpahaman, dan konflik.

3. Perbedaan Persepsi dan Sudut Pandang

Tanpa menyadarinya, hal-hal yang menjadi fokus kita biasanya menjadi dasar persepsi kita, dan cara kita memandang sesuatu biasanya menjadi kenyataan kita. Kita mungkin fokus pada area berbeda dari satu situasi tergantung pada suasana hati kita saat ini, hal-hal yang kita pikirkan saat ini, pengalaman masa lalu kita, dan banyak hal serupa lainnya, yang berarti kita hanya melihat sebagian dari kenyataan – kenyataan kita.

Bagi kebanyakan orang, mereka sangat buruk dalam berkomunikasi karena mereka menggeneralisasi bagian realitas mereka menjadi realitas keseluruhan. Meskipun mereka mungkin memiliki niat terbaik, tetapi mereka gagal untuk menyadari bahwa mereka hanya memahami sesuatu berdasarkan lensa mereka sendiri.

Perbedaan budaya dan bahasa juga bisa menjadi penyebab miskomunikasi. Kebanyakan budaya memiliki sudut pandang yang berbeda sehingga membuat mereka melihat dan menafsirkan satu situasi secara berbeda.

4. Berprasangka Buruk

Gagal mendengarkan dengan cermat sering kali mengakibatkan rumusan asumsi atau ekspektasi yang tidak realistis. Kadang-kadang orang berasumsi bahwa mereka sudah tahu apa yang dibicarakan orang lain bahkan sebelum orang lain bisa berbicara. Itu juga membuat kita membentuk ekspektasi yang tidak realistis terhadap suatu situasi tertentu.

Stereotip dan prasangka kita sendiri juga menjadi penyebab menghambat komunikasi yang efektif. Ini hampir selalu menyebabkan ketidak mampuan kita untuk memberikan perhatian dan minat penuh kepada pembicara, sehingga terjadi kegagalan dalam komunikasi.

Ada banyak sekali alasan mengapa orang gagal menyampaikan pesan mereka secara efektif. Semua itu tidak perlu diterima begitu saja. Belajar berkomunikasi secara efektif membutuhkan sedikit latihan. Tetapi dengan latihan terus-menerus, kita dapat menyelamatkan banyak kesalah pahaman dan konflik yang sering terjadi dilingkungan kita.